Posted by Anandita on Jul 6, '07 12:27 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | JK Rowling |
Ini edisi yang paling seru! Paling tebel! Paling complicated! Saya merekomendasikan kepada anda semua untuk ikut ngantri depan toko buku terdekat untuk mencuri buku ini dari orang yang udah beli... Cerita pada Harpot edisi terakhir ini dibuka dengan adegan di Hogwarts ketika Harry memutuskan meninggalkan sekolah untuk memburu Kau-Tahu-Aku-Bakwan, eits...Kau-Tahu-Siapa. Tapi niat mulianya serta merta dicegah oleh Mrs. McGonnagal yang mengkhawatirkan keselamatan Harry. Bukan Harry namanya kalo berbuntut panjang (eh itu mah Crookshanks ya?), maksutnya bukan Harry namanya kalo ngga bisa kabur dari Hogwarts. Dengan percaya diri yang tinggi, pergilah dia bersama sekutunya kw Godric’s Hollow untuk ziarah, sekaligus mencaritahu apakah ada Horcrux di sana.
Seperti kalian tahu semua tentu, edisi terakhir ini punya ide utama pencarian Horcrux oleh Harry dalam rangka membasmi Volde..., You-Know-Who. Salah satu Horcrux ternyata adalah bekas luka di jidat Harry! Adegan perkelahian terseru di cerita ini merupakan pembuktian dari ramalan yang berbunyi, “salah satu akan mati sementara yang lainnya akan terus hidup”. Yah, saudara-saudara, rasanya ngga etis ya kalo saya kasihtau bahwa yang mati adalah Harry Potter, upss!!! Maaf, kelepasan! Tapi ya, untuk menyenangkan banyak orang, ternyata JKR membuat cerita ini ber-happy ending kok... Voldemort ngga mati, tapi dia insyaf, berhenti jadi penyihir jahat. Dia kemudian berkarir sebagai guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam di Hogwarts pada semester berikutnya.
*Resensi ini –baik nama tokoh, alur cerita, maupun lokasi kejadian hanya khayalan semata. Harap jangan menuntut JK Rowling atas resensi cerita yang memuakkan ini. Saya hanya Pottermaniak yang sakaw menunggu buku ketujuhnya sampe bisa-bisanya menulis ginian...  Posted by Anandita on Nov 1, '06 10:06 PM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Arthur Golden |
Geisha, Antara Takdir Dan Pilihan Hidup
Sayuri dalam memoarnya mengajak kita untuk menyelami kisah hidupnya yang (menurutnya) seperti air. Sayuri mengajak kita berpikir mengenai menerima takdir dan menjalani pilihan hidup. Sayuri juga mengajak kita untuk memaknai nilai sebuah perjuangan dan pentingnya memiliki kompas dalam hidup.
Novel Memoar Seorang Geisha menceritakan kisah hidup seorang geisha bernama Sayuri. Kisah dimulai dengan menceritakan masa kecil Sayuri (yang ketika itu bernama Chiyo) di perkampungan nelayan miskin Yoroido. Kondisi keluarganya yang miskin memaksa orangtua Sayuri untuk menjualnya dan kakaknya ke Gion, distrik pusat hiburan malam. Malam kedatangan Sayuri ke Gion mengawali cerita perjuangan Sayuri mengatasi kesulitan hidupnya dan mewujudkan cita-citanya menjadi seorang geisha.
Cerita dalam buku ini dibuka dengan tulisan berjudul ‘Catatan Penerjemah’. Tulisan ini merupakan trik yang sama dengan yang digunakan oleh Dan Brown pada Da Vinci Code-nya, menyajikan tulisan yang mengesankan fiksi tersebut adalah fakta. Mau tak mau, pada awalnya saya sempat percaya bahwa cerita tersebut diangkat dari kisah nyata. Tak dapat dipungkiri bahwa saya sangsi penulis mampu menggambarkan dunia geisha yang sangat unik mengingat penulis adalah orang Amerika, laki-laki dan hidup di jaman sekarang pula.
Riset mengenai sejarah Jepang yang dilakukan penulis menyajikan fakta-fakta menarik mengenai dunia geisha. Mungkin sebelumnya tidak banyak orang memerhatikan bahwa bentuk sanggul rambut dan gaya kimono yang digunakan geisha berbeda dengan wanita Jepang pada umumnya (non-geisha). Dalam buku ini, penulis menjelaskan perbedaan-perbedaan tersebut.
Pada awalnya, tujuan saya membaca buku ini adalah mengharapkan pembenaran mengenai anggapan bahwa geisha tidak berbeda dengan pelacur. Namun, penulis melalui tokoh Sayuri mengemukakan beberapa bantahan mengenai anggapan tersebut. Penulis lebih suka memadankan geisha dengan fenomena istri simpanan pada budaya lain. Toh, penulis juga tidak menutupi adanya tradisi mizuage yang menjadi penanda “matangnya” seorang geisha magang.
Seperti banyak novel-novel laris lainnya, novel ini juga diangkat ke layar lebar. Namun, sebagai seorang pecinta buku, terus terang saya kecewa dengan filmnya. Banyak perubahan di banyak hal, yang membuat saya lebih suka dengan gambaran yang dibentuk oleh imajinasi pribadi, bukannya visualisasi oleh film. (an2)
Data Buku Judul : Memoirs of A Geisha (Memoar Seorang Geisha) Pengarang : Arthur Golden Halaman : 496 halaman Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
 Posted by Anandita on Sep 14, '06 12:00 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Jostein Gaarder |
Memaknai Hidup Lewat Sebuah Surat dari Masa Lalu
"Jika kesempatan untuk hidup telah diberikan kepada kita, jika kesempatan untuk mewarnai alam semesta yang hanya 0,0000 sekian persen telah kita ambil melalui kehidupan kita, bukankah selayaknya kita memanfaatkannya dengan baik, sebelum segalanya direnggut lagi dari kita?"
Gadis Jeruk adalah salah satu buku terbaru Jostein Gaarder yang teah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Jostein Gaarder adalah seorang mantan guru filsafat SMA di Norwegia yang sekarang beralih menjadi penulis penuh-waktu. Beberapa bukunya yang telah menjadi best-seller dunia adalah Dunia Sophie (terbitan Mizan) dan Misteri Soliter (terbitan Jalasutra).
Novel ini adalah sebuah buku-wajib-punya bagi anda yang punya ketertarikan terhadap filsafat. Gaarder memang selalu menyisipkan pelajaran-pelajaran filsafat dalam novel-novelnya. Ada chemistry yang terasa pada setiap tulisan Gaarder, membuat saya merasa kesulitan untuk menyimpannya sebelum mengetahui akhirnya. Meskipun, biasanya maksud dan tujuan si pengarang baru dapat saya raba pada kali membaca yang ketiga.
Tentang buku ini, sekali lagi saya terkesan atas kecerdikan Gaarder menggunakan anak kecil sebagai tokoh utamanya. Dalam ketiga buku yang saya baca, anak kecil itu selalu diposisikan sebagai tokoh yang sedang mendapatkan pelajaran filsafat (dengan cara yang berbeda, tentu saja) dari orangtuanya. Sebagai anak kecil itu pula saya merasa pantas memposisikan diri saya.
Buku ini mengisahkan Georg Roed, lelaki berusia 15 tahun yang mendapat surat dari ayahnya yang telah lama meninggal. Dalam suratnya, sang ayah bercerita mengenai seorang gadis yang dinamainya Gadis Jeruk. Ayahnya membawa pikiran Georg (dan pembaca) untuk ikut berkelana dari sebuah kisah percintaan hingga pertanyaan penting mengenai alam semesta serta makna eksistensi kita di dunia ini.
Mereka (anak kecil alias tokoh utama) belum berpikir apa arti keberadaannya di dunia ini, Belum menyadari seberapa besar pengaruh dirinya yang hanya 0,0000000000 persen dari eksistensi bumi ini. Dan terakhir, belum tentu pernah memikirkan pertanyaan seperti,"apa sih yang terjadi seandainya saya tiada". Gaarder memposisikan tokoh utama sebagai pihak yang mencari jawaban dari pertanyaan tersebut.
Namun sayangnya, sebagian dari kita (yang sudah hidup lebih lama dan beberapa mengecap dirinya sebagai 'orang dewasa') belum tentu telah memikirkan hal yang sama. Saya termasuk yang ini.
Hanya sebatas itukah hidup kita...ada untuk kemudian menjadi tiada? 
| |